Selasa, 04 Desember 2012

KEBEBASAN, TANGGUNG JAWAB DAN HATI NURANI


Kebebasan dalam Islam
Kehendak bebas adalah hakikat jiwa manusia. Menurut cerita Al-Qur'an itu adalah kehendak bebas yang membedakan manusia dari para malaikat pada titik penciptaan. Dan bahkan ketika para malaikat menyarankan bahwa (sebagai hasil) laki-laki akan "membuat kerusakan (di muka bumi) dan menumpahkan darah," Tuhan menjawab, "Aku tahu apa yang Anda tidak" - dengan demikian memberikan izin ilahi yang unik ini aspek penciptaan dan mengakui bahwa sementara kebebasan dapat menyebabkan korupsi, hanya melalui latihan pilihan bebas bahwa jiwa manusia dapat mencapai ketinggian yang dimaksudkan itu.
Di era modern ini banyak orang yang memaknai kebebasan itu hanya dengan sikap ”semau gua”, permisive atau segala boleh dan serba relatif. Setiap kali mendengar kata kebebasan ini disebut, benak mereka langsung mengimajinasikan suatu ”dunia” tanpa aturan, nilai, moral, dan anarkis.Hanya dalam tataran inilah mereka memaknai arti kebebasan.
Salah satu faktor yang melatar belakangi atau mempengaruhi sikap seseorang adalah pemahaman. Sikap orang terhadap sesuatu sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap sesuatu tersebut. Jadi, kalau pemahamannya negatif dan kurang komprehensif maka sikap yang muncul cenderung negatif dan distorsif. Maka tidak heran bila banyak sekali orang (khususnya umat muslim) yang menolak dan menyangkal kebebasan karena mereka masih memaknai kebebasan sebatas harfiah, yaitu ”bebas”. Bebas bersikap, bebas melakukan apa saja, bebas beragama dan berkeyakinan, bebas berpikiran dan berpendapat, bebas bergaul, dan bebas-bebas yang lain. Bebas-bebas ini mereka tolak karena dianggap bertentengan dengan agama yang telah mempunyai aturan final dan nilai-nialai yang harus ditaati den tidak boleh dibebaskan. Dengan asumsi ini mereka menolak kebebasan dan memusuhi pembela kebebasan.
Pertama kali manusia dilahirkan ke dunia yang fana ini kebebasan telah melekat pada dirinya secara alamiah, dalam kebebasan yang sebebas-bebasnya. Tanpa nilai, aturan, moral, bahkan agama. Tuhan menyerahkan dan mempercayakan segalanya murni kepada manusia. Sampai akhirnya lingkungan mengajarkan dan menuntut manusia untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan aturan, nilai dan etika yang disepakati dan dianut oleh masyarakat (behaviorisme). Siapa yang berbuat diluar aturan yang telah dispakati itu maka pelakunya akan dikenakan sanksi. Karena ada sanski berarti ada batasan. Maka aturan atau batasan inilah yang membatasi kebebasan yang melekat pada tiap individu.
Ilustrasi di atas hanya untuk memperlihatkan bahwa tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya. Apalagi segala boleh. Setiap masyarakat manapun pasti mempunyai aturan bersama demi terjalinnya harmonisasi antar anggota kelompok masyarakat. Aturan atau hukum--tidak hanya sebatas hukum postif--itulah yang mengatur kebebasan individu agar tidak berbenturan dengan kebebasan individu lain. Kebebasan orang mendengarkan musik misalnya, tidak boleh mengusik kebebasan orang lain untuk merasakan kenyamanan dalam keheningan. Dengan sendirinya hukum menjadi semacam mekanisme ”penertiban” kebebasan antar individu.
Karena itu, kebebasan harusnya di pahami dalam konteks pemeberian ruang dan kesempatan kepada setiap individu untuk memenuhi hak-hak pribadinya dan untuk mengaktualisasikan diri sebatas itu tidak bertentangan dengan hukum dan aturan. Hak-hak dasar ini juga diatur dalam konstitusi kita, seperti hak untuk berafiliasi dan menyamapaikan pendapat, hak untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan sekaligus menjalankannya, hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, hak untuk untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama bagi setiap warga negara dan hak-hak lainnya. Singkatnya kebebasan adalah memberikan keleluasaan individu untuk memenuhi hak-haknya.
Jadi, makna kata kebebasan itu sama sekali bukan sikap permisif atau segala boleh seperti yang disangkakan para konservatif. melainkan kebebasan yang mempunyai rasa tanggung jawab, kebebasan yang tidak melawan aturan dan hukum. Islam mengajarkan tentang kebebasan dan penghormatan akan pilihan setiap individu. Kita dapat merujuk kepada dua hal; yaitu dari aspek doktrinal dan dari praktik sejarah.
Dalam level doktrinal kita akan menemukan diantaranya diktum lâ ikrâha fî al-dîn (tidak ada paksaan dalam beragama) dan lakum dîinukum wa liyadîn (untukmu agamamu dan untukmu agamaku). Melihat dua penggalan ayat al-quran ini maka dapat kita pahami bahwa Allahmemberikan kebebasan yang sangat luas kepada seluruh umatnya bahkan untuk tidak beragama sekalipun. Allah membebaskan manusia untuk memilih jalannya sendiri: jalan yang lurus atau yang sesat, keselamatan ataupun kecelakaan. Seperti yang dikatakan Al-Quran, andai saja seluruh umat manusia tidak taat dan menyembah Nya, maka Allah sedikitpun tidak akan rugi.
Ayat    lainnya   adalah    faman syâ’a falyu’min,   wa man syâ’a falyakfur (barangsipa yang menghendaki bolehlah dia beriman dan barangsiapa yang menghendaki bolehlah dia kafir). Serta banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menjamin akan kebebasan, khususnya kebebasan beragama dan berpendapat, yang    tidak mungkin saya uraikan satu per satu.
Dalam periode Nabi kebebasan itu sangat dihormati. Seperti yang kita ketahui bahwa pada saat itu banyak perbedaan di anatara para sahabat dalam menerjemahkan atau memahami sunnah Nabi. Tetapi Nabi mengapresiasi perbedaan itu secara arif. Nabi pun melarang memerangi pendapat orang yang berbeda. Konon, sewaktu zaman khulafâ al-râsyidîn, ada seorang sahabat yang bernama Abu Dzar al-Ghifari. Oleh Nabi, lidahnya dijuluki sebagai orang yang paling jujur di bawah kolong langit. Itu merupakan pujian Nabi untuk seorang yang memperjuangkan kebebasan berpendapat.
Hal ini tidak berarti Islam mengajarkan relativisme-nihilistik. Tetap ada nilai ideal. Dengan kebebasan bukan berati kita tidak membenarkan hal-hal yang hal-hal yang secara ideal salah. Juga bukan membenarkan pandangan atau tindakan orang lain berdasarkan keyakinan kita. Kita hanya memberikan ruang dan kesempatan yang sama bagi orang lain untuk melakukan apa yang ia yakini. Secara ideal-teologis saya percaya bahwa hukum ibadah Shalat itu wajib dan berdosa bagi umat muslimin yang meninggalkannya. Tapi keyakinan ini tidak lantas membuat saya membenci dan memaksa orang lain untuk melaksanakan Shalat juga, karena itu adalah hak pribadinya yang harus saya hormati dan terjamin kebebasannya. Adapun kewajiban saya sebagai sesama muslim adalah menasihatinya dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, itupun harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf.
Apabila kebebasan dapat terjamin maka ada beberapa implikasi postif dari hal itu, diantaranya: 
·         Pertama, dengan kebebasan yang terjamin maka hak-hak individu seperti hak beragama dan berpendapat akan lebih terjamin (orientasi demokrasi). 
·         Kedua, kebebasan yang terjamin akan memberikan stimulus atau rangsangan bagi setiap orang untuk berpikir dan bertindak lebih kreatif dan inovatif, karena tidak ada ketakutan kalau pikiran dan cara-cara ”baru” itu mendatangkan bahaya bagi dirinya sendiri. 
·         Ketiga, kebebasan (berpendapat) akan semakin memungkinkan terciptanya tatanan yang lebih berkeadilan karena memberikan kemungkinan yang semakin besar pada tiap masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan aspirasinya, berpartisipasi secara lebih luas dalam pengambilan kebijakan-kebijakan publik (demokrasi deliberatif) 
·         Keempat, kebebasan (berpikir) akan memberikan peluang yang lebih besar dalam pencarian kebenaran karena dengan adanya kebebasan berpikir bisa memperkuat atau merevisi kebenaran saat ini yang telah mapan atau bahkan menemukan kebenaran-kebenaran lain yang berada di ”pinggiran”, berada di luar kebenaran dominan.
Kebebasanpun tidak dapat hidup dan tumbuh begitu saja. Ia harus ditanam dan dipelihara agar lestari dan berbuah.  Dan itu adalah tanggung jawab kita semua. Tanggung jawab manusia yang memiliki amanah kekhalifahan.

Tanggung Jawab dalam Pandangan Islam
Manusia dibedakan dari makhluk lain karena kebijaksanaan-Nya, dan akan menjadi khalifah, yang memegang tanggung jawab dan layak perbedaan tersebut. Dia adalah sebagaimana dimaksud melalui wahyu dan kepada siapa firman Allah, Yang Maha Pemurah terungkap. Menghargai dan menghormati-Nya dibandingkan dengan makhluk lain menunjukkan kehormatan besar dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Tanggung jawab seperti itu menyatakan bahwa posisinya dibangkitkan melalui memberinya lebih penting dan harga diri. Memang, manusia tidak dianggap bukanlah seorang yang diabaikan atau yang sia-sia satu dalam hidup karena dia memiliki kebijaksanaan, kehendak dan kemampuan dan yang mengambil kehendak-Nya dan kemampuan untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, dia bertanggung jawab atas perbuatan dan perilaku yang sesuai.
Islam perbaikan kedua tanggung jawab atas manusia: individu dan kolektif Mengenai tanggung jawab individu, dia bertanggung jawab jauh dirinya sendiri, dengan demikian Allah.
Dalam Al quran manusia yang bertanggung jawab di hadapan Allah jauh sambutannya, perilaku, dan perbuatan dan akan dinilai oleh Allah pada Hari Kebangkitan Hari Keadilan dan Hukuman).
Semua ini adalah dalam rangka untuk membuat hubungan-Nya dengan secara langsung dan juga untuk menilai diri di hadapan Tuhannya. Ia dibuat untuk merasakan kekurangan dan tanggung jawab. Dengan demikian, sikap-sikap negatif harus diperbaiki secara spontan dan tanpa paksaan agar ia kehilangan kepekaan diri dan rasa tanggung jawab yang menyebabkan dia kehilangan motivasi diri dan harga diri.. Kemudian di atasnya dapat mengakibatkan kehilangan nilai sebagai orang bijaksana dan terhormat, yang kemudian perlu lelucon untuk membuat dia melaksanakan kewajibannya dan menghindari apa yang dilarang.
Islam ingin untuk memunculkan kekuatan hati nurani dalam jiwa manusia di didahulukan dari kekuatan negara dan untuk mengembangkan tanggung jawab pribadi kebajikan, untuk menjadi wali untuk menilai diri sendiri dan tahu bahwa salah satu yang bertanggung jawab sebagai Hari Kebangkitan jauh apa yang Allah telah memberikan. Setiap orang bertanggung jawab atas properti yang dimilikinya. Dan dari mana ia mendapatkan itu dan bagaimana ia menggunakannya? Manusia juga bertanggung jawab jauh ia memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk yang diterapkan di hadapan Allah dan bagaimana mereka bekerja. Apakah dia menggunakan mereka jauh-Nya sendiri keuntungan pribadi atau jauh manfaat umum masyarakat? Apakah ia mengeksploitasi mereka jauh korup dan praktek-praktek destruktif, dan untuk meningkatkan hanya dirinya sendiri dan kepentingan duniawi? Manusia bertanggung jawab jauh dengan mentalitas dan kecerdasan yang Allah berikan kepadanya dan bagaimana mereka menempatkan untuk digunakan. Dan jika mereka salah arah dalam cara menyimpang, menipu orang lain atau dikoreksi di jalan bimbingan dan peneguhan jiwa dan reformasi.
Ia juga bertanggung jawab untuk kekuatan yang Allah memberinya dan untuk tujuan apa melakukannya mendapatkan. Apakah itu dihabiskan di boros ketidaktaatan dan menjadi agresif? Ataukah itu digunakan menuju kebaikan dan mengikuti cara yang benar? Manusia juga bertanggung jawab untuk kekuatan, posisi dan tingkat sosial yang Allah memberinya dan apakah mereka disalahgunakan untuk penindasan, menciptakan terorisme, dan mencari keunggulan untuk memperoleh keuntungan pribadi atas orang lain? Atau apakah itu konstruktif dimasukkan akan digunakan untuk pembangunan sosial di jalan Allah, Yang Mahakuasa?
Akibatnya, manusia akan ditanyai untuk lidah yang Allah berikan kepadanya dan bagaimana dia menggunakannya. Apakah ia menggunakannya untuk mengucapkan kata-kata kebaikan, reformasi dan kemajuan sosial diuntungkan? Atau dia menggunakannya untuk menipu, fitnah, berbohong, dan menghina orang lain? mata yang Allah memberinya dan untuk tujuan apa mereka dimasukkan. Apakah dia menggunakan pengetahuan mereka untuk membaca buku dan menghormati kebesaran Allah? Atau dia menggunakannya untuk melihat apa yang Allah telah dilarang dan dilarang?
Dia juga akan ditanyai pada karunia Allah telinga dan indera pendengaran hanya digunakan untuk mendengarkan gosip, kata-kata kosong, perbuatan keji dan mubazir hiburan? Atau apakah mereka diarahkan mendengar firman bimbingan, edukatif dan bermanfaat perdebatan?
Manusia memilki tanggung jawab individu di hadapan Allah dan juga tanggung jawab individu di hadapan negara Islam, jalankan sesuai dengan hukum Islam. Seperti negara diberi hak untuk memerintah dan mengatur urusan masyarakat, promulgating hukum untuk melindungi kepentingan masyarakat Muslim, kesejahteraan umat manusia dan kemajuannya. Juga diberi hak untuk memberi perintah dan penilaian. Jadi, manusia juga bertanggung jawab untuk ini sebelum Allah Yang Maha Tinggi.
Tanggung jawab akan mengahdirkan nilai-nilai yang mengatur tugas-tugas pribadi untuk mengatur perilaku, masyarakat dapat dibentuk untuk menjaga keseimbangan, di mana keamanan, sosial, perdamaian dan kesejahteraan ekonomi yang diawetkan.. Tanpa tanggung jawab ini, kehidupan berubah menjadi kekacauan dan anarki, peran keadilan dan hukum menghilang, dan masyarakat menjadi tirani.
Islam mengatur tanggung jawab dengan membuat setiap orang bertanggung jawab baik untuk dirinya sendiri dan orang lain, karena itu, seorang gembala bertanggung jawab atas kawanan, seorang ayah bagi anak-anaknya dan seorang gubernur untuk rakyatnya. Masing-masing memiliki tanggung jawab mereka diatur menurut posisi mereka dalam masyarakat.

Keterkaitan antara bebasan, tanggung jawab dan hati nurani
Allah telah memberikan kebebasan kepada manusia, namun manusia memilki tanggung jawab dalam menjalani kebebasan ini, manusia tidak boleh berlaku seenaknya, kebebasan ini harus bergandengan dengan hati nurani dan tanggung jawab, sehingga tercipta lingkungan yang aman dan sejahtera. Dengan kebebasan manusia dapat berkembang, dengan tanggung jawab manusia akan lebih terarah dan dengan hati nurani tercipta ketentraman. Ketiga point ini harus diterapkan dalam hidup guna menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar